Peluang Usaha Snack Masih Menjanjikan dan Menguntungkan Untuk Digarap

Bisnis makanan tidak mengenal istilah mati angin selagi manusia masih hidup. Sebab itu, bisnis makanan akan terus berkembang seiring pertumbuhan populasi penduduk. Salah satu peluang usaha yang menjanjikan dan menguntungkan tersebut adalah usaha snack atau camilan.

Bisnis UKM

Usaha kecil dan menengah (UKM) adalah salah satu motor penggerak perekonomian di negara kita. Bahkan UKM menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

UKM terbukti mampu bertahan sekali pun diterpa krisis ekonomi. Saat ini UKM menyumbang sekitar 60% dari produk domestic bruto (PDB) Indonesia. Selain menyediakan kesempatan kerja kepada masyarakat luas, bisnis UKM juga memberikan peluang menjadi pengusaha bagi mereka yang menyukai berwiraswasta.

Namun, terjun langsung menjadi pelaku bisnis UKM bukan perkara mudah. Apalagi jika merintis usaha sekadar coba-coba mencari peruntungan dari tren usaha tertentu.

Peluang Usaha Snack Masih Menjanjikan dan Menguntungkan

Salah satunya bisnis UKM yang kebal terhadap krisis adalah bidang makanan. Pertimbangannya :

Pertama, makanan adalah kebutuhan pokok bagi hidup manusia. Sebab itu, usaha makanan dipastikan tidak akan mati selagi masih ada manusia hidup.

Kedua, jumlah penduduk dunia terus bertambah. Selain memerlukan makanan, manusia juga mengalami pertumbuhan dari sisi kuantitas. Bertambahnya jumlah penduduk berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan produk makanan. Alhasil jasa atau usaha yang menyediakan kebutuhan makanan akan terus berkembang seiring laju pertumbuhan penduduk tadi.

Atas dasar itu, Adhi S. Lukman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmi) memproyeksikan, kinerja bisnis sektor makanan dan minuman akan tetap positif pada 2017, yang bertepatan dengan tahun ayam dengan unsur api.

Bahkan, bagi Adhi peluang bisnis makanan untuk terus tumbuh tidak terbatas di dalam negeri. Ia menyebut dengan terbuka pasar di kawasan Asia Tenggara, maka akan membuka peluang masuknya investasi di sektor makan dan minuman di kawasan ini.

Sebagai gambaran, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) mencatat realisasi investasi industri makanan per September 2016 dari pemodal lokal mencapai Rp 7,37 triliun di 226 proyek. Sementara pemodal asing merealisasikan investasi US$ 632,24 juta untuk 407 proyek.

Usaha Snack

Sektor usaha makanan dan minuman terbilang banyak. Dari sisi produk, Adhi merinci, bisnis yang prospeknya moncer di depan masih akan didominasi oleh semi-basic food seperti mie instan dan snack food. Sedangkan produk beverages atau minuman dan campuran minuman peluang usahanya juga masih oke. Cuma, persaingan bakal semakin sengit.

Ia menganggap, usaha snack food masih akan merajai pasar dalam beberapa tahun ke depan karena inovasi produk ini yang cepat dan terus maju. Misalnya untuk produk snack food keripik singkong, kentang, dan sejenisnya.

Hal senada diutarakan Andi Rosiawan, pemilik PD Genzy Amareiz yang memproduksi keripik singkong dan kentang. Menurut Andi, permintaan camilan berbahan dasar ketela semakin menanjak sejak pertama buka usaha pada 2006 silam.

Saat ini, PD Genzy Amareiz bisa memproduksi keripik singkong dengan merek Genzy sebanyak 8 ton per hari dengan mempekerjakan 30 karyawan. Andi memutuskan menjadi produsen keripik singkong setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari pabrik rokok Bentoel beberapa tahun lalu.

Ia pun optimistis usaha keripik singkong tetap laris manis karena snack yang kriuk dan gurih ini cukup digemari masyarakat. Pemasaran keripik Genzy mencakup Bandung, Jakarta, dan Bogor.

Untung dari berjualan produk snack food juga dirasakan Suhartini, distributor Casava, produsen keripik singkong brand Ya Aya, asal Salatiga. Dalam satu koli terdapat 30 bungkus keripik singkong. Adapun per bungkus seberat 1,5 kg dengan harga Rp 30.000.

Suhartini bilang, selama lima tahun berjualan keripik singkong belum pernah mengalami rugi malah ia keteter menerima pesanan. Padahal ia hanya distribusikan via online wilayah Jabodetabek saja.

Setali tiga uang dengan Riyanto alias Ryri HPM, produsen Risma Mi Lidi yang menganggap usaha snack prospeknya masih menjanjikan cuan yang lumayan.

Usaha snack sekilas nampak seperti kebutuhan sekunder. Namun jika dicermati, snack merupakan camilan yang pasarnya luas.

Untuk berbisnis makanan ringan seperti mi lidi tidak perlu modal besar. Cara pembuatannya pun sederhana. Namun keuntungannya bisa berlipat yakni bisa mencapai 120%.

Ryri menambahkan, Ris.ma Snack memproduksi mi lidi sebanyak 30.000 pieces per hari dengan harga Rp 2.000 per pieces. Adapun total omzet mencapai lebih dari Rp 500 juta per bulan. Padahal ketika Ryri merintis usaha ini pada 2013 lalu hanya bermodal Rp 400.000 utuk memproduksi 1.300 pieces per hari.

Sekarang, wilayah pemasaran mi lidi Ris.ma cukup luas dari mulai Jabodetabek, Bandung, Garut, dan Tasikmalaya. Tak hanya itu, Ris.ma Snack dipasarkan ke wilayah Rembang, Solo, Yogyakarta, Surabaya bahkan Jambi.

Baca juga:

Leave a Reply