Peluang Bisnis Jasa Sulam Alis Mata Masih Prospektif

Tampil mempesona seolah menjadi tuntutan bagi setiap wanita. Apalagi bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta. Karenanya, orang rela merogoh kocek dalam-dalam agar bisa tampil sesuai impian.

Kegemaran wanita untuk memanjakan diri dan tampil indah inilah yang menjadi potensi mengeruk cuan. Tak heran, jika saat ini muncul berbagai jenis produk dan jasa perawatan, kecantikan, tubuh hingga kebugaran yang menyasar semua bagian dari ujung kaki hingga ujung rambut wanita.

Salah satu produk jasa yang sedang tren dan digandrungi oleh sebagian wanita Indonesia adalah mempercantik tampilan alis. Jasa ini lebih dikenal dengan istilah sulam alis.

Misalnya Febriana (29), karyawan bank swasta di bilangan Jakarta Selatan ini mengaku menyulam alis cukup membantu dirinya menghemat waktu dalam ritual berdandan sebelum berangkat kerja. Maklum bekerja di bank, ia gemar bersolek, apalagi ada tuntutan di tempat kerja agar selalu berpenampilan rapi dan menarik. “Biar Cuma pakai bedak tipis dan lipstik tapi bentuk alis itu krusial karena dia bentuk bingkai muka,” terang Febriana.

Pada awalnya, Febriana membentuk alis sekadar menggunakan pensil alis. Namun, hasilnya kurang maksimal dan hanya bertahan satu hari. Hari berikutnya, proses pembentukan alis harus kembali dilakukan saat merias wajah. Bagi Febriana ritual ini, cukup merepotkan dengan waktu terbatas, terutama di pagi hari.

Peluang Bisnis Jasa Sulam Alis Mata Masih Prospektif

Nah, dalam beberapa tahun belakangan, jagat hiburan juga ramai memperbincangkan tentang bentuk alis para selebriti. Bentuk alis ini membantu para selebriti mempertegas karakter wajahnya. Tak heran, kalau belakangan usaha membentuk alis dan mempertebalnya mulai ramai. Mulainya lewat tato, belakangan ada metode lain membentuk alis, yaitu sulam.

Kisah Pebisnis Sulam Alis

Sulam alis merupakan teknik pembentukan alis menggunakan alat khusus. Proses pengerjaannya dilakukan di atas permukaan kulit, yakni dengan menciptakan salur-salur yang menyerupai bulu alis asli, dan tampak alami sehingga tidak terkesan tempelan atau kaku. Sulam alis juga berbeda dengan teknik tato yang lebih dulu dikenal untuk membentuk alis permanen.

Rina Irawati, pemilik usaha sulam alis Rina Studio menyebut, tren bisnis sulam alis naik cukup signifikan dalam setahun terakhir. “Karena sekarang perempuan mau tampil cantik tapi enggak mau ribet, selain itu mereka juga lebih suka tampilan terlihat alami, “ ujar Rina di studionya yang berlokasi di kawasan Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat.

Sama seperti salon dan rias wajah, sulam alis mengandalkan keterampilan. Tak sembarang orang bisa membuka jasa penyulaman alis.

Untuk mendirikan usaha jasa penyulaman alis, setidaknya Rina mengantongi lebih dari tiga sertifikat. Sertifikat pertama merupakan sertifikat basic atau dasar keterampilan sulam alis. “Sertifikat selanjutnya update untuk tingkat profesional belajar teknik-teknik baru dalam sulam alis,” kata Rina.

Saking menjamur, saat ini banyak pihak menawarkan pelatihan teknik penyulaman alis. Tapi, jangan sembarang ambil tempat kursus, lo.

Rina mengingatkan, pemula harus hati-hati dalam memilih tempat kursus sulam alis. “Bukan berarti sembarang kursus jelek. Prinsipnya semua guru bagus, tapi ada cara melihat mana yang lebih baik yakni alumni dari mana,” katanya.

Kursus sulam alis setidaknya mematok tarif Rp 30 juta sampai Rp 50 juta. Biasanya, kursus berlangsung selama tiga sampai lima hari. Rina bilang, pelatih akan membimbing sampai bisa praktik menyulam alis secara mandiri.

Vina Angela, pemilik studio sulam alis di Surabaya juga bilang, biasanya kursus yang baik tak hanya mengajarkan teknik penyulaman kepada para pesertanya, tapi juga memberikan alat kepada peserta kursus.

“Ada beberapa tempat kursus yang memiliki peralatan cukup lengkap. Jadi begitu selesai mengikuti kursus kami bisa langsung praktik,” kata Vina.

Hanya saja, setelah kursus biasanya peserta tak bisa langsung dapat klien saat membuka praktik. Karena ini adalah bisnis jasa, maka perlu adanya referensi dari para pengguna lain. Artinya secara tidak tertulis, anda perlu memiliki jam terbang dan pengakuan atawa word of mouth supaya mendapatkan klien.

Untuk itu Vina menyarankan penyulam baru memberikan jasanya secara cuma-cuma atau potongan harga kepada keluarga atau teman dekat. Setelah berhasil, biasanya kekuatan word of mouth marketing alias dari mulut ke mulut yang bekerja. Para klien yang puas mereferensikan jasa anda kepada teman-teman dan keluarganya. “Saya baru punya klien orang lain di luar keluarga, setelah membuka jasa ini selama enam bulan,” cerita Vina.

Margin usaha ini cukup menggiurkan, hampir 50% Sebab, usaha ini berbasis keterampilan dan tak memiliki patokan tarif secara khusus. Bahkan penyulam ternama langganan selebriti bisa mematok tarif puluhan juta.

Patokan harga menyesuaikan dengan sewa tempat dan kualitas bahan baku yang digunakan. Kadangkala tempat praktik yang elit bisa mendongkrak harga layanan jasa.

“Ada sulam alis yang murah harganya dibawah Rp 1 juta, tapi dalam empat bulan, sulaman alis itu sudah hilang karena memakai tinta yang kualitasnya rendah,” ujar Vina.

Umumnya proses penyulaman alis ini memakan waktu sekitar 2-3 jam. Satu jam pertama biasanya akan diisi dengan tahap konsultasi bentuk alis yang sesuai dengan selera dan bentuk wajah.

Rina mencontohkan tempat praktiknya, yang membuat nota kesepakatan hitam diatas putih dalam bentuk surat perjanjian. “Tidak sampai pakai materai sih, tapi yang penting sudah sepakat kalau nanti ada apa-apa sudah ada perjanjian sebelumnya,” kata Rina.

Rina yang juga memiliki usaha tato ini bilang, untuk membuka jasa sulam alis tak harus memiliki latar belakang sebagai artis atau orang yang punya passion gambar. Sebab, siapa pun bisa asal belajar dan memperbanyak jam terbang.

Menambah Layanan Selain Sulam Alis

Selain sulam, masing-masing studio juga menawarkan jasa eyelash extension atau memanjangkan bulu mata. Rina bilang, saat permintaan sulam sedang sepi, biasanya jasa ini lebih rutin dilakukan distudionya.

Rina menyebut satu hari bisa lebih dari dua orang yang datang untuk melakukan eyelash extension. Sebab, hasil sulam bisa bertahan dua sampai tiga tahun jadi pengunjung yang datang untuk proses penyulaman akan lebih jarang daripada jasa memanjangkan bulu mata.

Nah, untuk bisa membuka jasa ini, ada tambahan kursus yang harus anda ikuti dengan biaya sekitar Rp 10 jutaan selama tiga sampai empat hari.

Begitu juga dengan Vina yang berencana akan membuka tempat dengan layanan lebih lengkap. “Kedepan saya akan buka tempat yang lebih lengkap bisa sulam alis, eyelash extension dan nailart jadi lebih lengkap,” kata Vina.

Di studionya, Rina menawarkan jasa memanjangkan bulu mata mulai dari Rp 300.000 dan untuk sulam alis, mulai dari Rp 1,5 juta. Sementara Vina mematok tarif sulam mulai dari Rp 2,5 juta dan tarif eyelash extension mulai dari Rp 400.000.

Per bulan Rina bisa mengantongi omzet kurang lebih Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Sementara Vina pilih enggan memperinci berapa besar omzet bisnisnya setiap bulan.

Hanya saja, tren mempercantik alis dan bulu mata ini tak dibarengai dengan kemampuan produsen di dalam negeri untuk memproduksi bahan baku. Semua bahan baku seperti jarum, pisau, tinta sampai cairan anestesi mengandalkan produsen dari Korea Selatan. Maklum kiblat sulam menyulam ini adalah Korea Selatan.

Walau begitu, Vina bilang tak sulit mendapat pasokan bahan baku. Saat ini di marketplace online sudah banyak penjual yang menjajakan bahan baku untuk keperluan sulam alis ini. Hanya saja, anda memang harus jeli dan tahu kualitas bahan baku, sehingga tetap aman memesan dari pedagang dunia maya.

Untuk menekan harga dan memastikan kualitas bahan baku tetap bagus, Vina kerap mengandalkan beberapa koleganya yang melakukan perjalanan wisata atau bisnis ke Korea Selatan. Sementara Rina mengandalkan pemasok yang dia dapat dari referensi komunitas profesi penyulam alis.

Mereka bilang, penyulam yang sudah punya jam terbang akan mengerti bagaimana cara membedakan produk berkualitas atau tidak berkualitas. Soalnya, kualitas bahan ini menentukan pula hasil akhir dari sulaman. “Misalnya proses peel off sulam lebih jelek karena kualitas tintanya kurang bagus, “ ujar Vina.

Penyulam bisa menilai saat proses peel off atau pengelupasan terjadi. Sebab, para klien membayar jasa mereka untuk dua kali kunjungan, saat penyulaman dan satu kali kunjungan setelahnya untuk perawatan.

Makanya, baik Rina maupun Vina sama-sama menyarankan penggunaan bahan baku yang memiliki standar kualitas baik. Sebab, nyawa usaha ini berbasis pada rekomendasai dan referensi. Jangan lupa, sekali klien puas, mereka akan menceritakan jasa anda kepada keluarga dan teman-temannya.

Bagaimana, apakah anda berminat masuk bisnis sulam alis ini?

Baca juga:

Leave a Reply