Mengintip Peluang Usaha Angkringan

Bisnis kuliner menjadi salah satu usaha yang masih memiliki prospek gurih tahun ini. Pasar yang terbuka di bisnis ini bukan cuma untuk kalangan atas, tapi kuliner kelas bawah pun masih menjanjikan keuntungan setimpal.

Misalnya usaha warung makan kaki lima bermodal gerobak. Kelebihan usaha ini mudah dipindahkan manakala lokasi kurang sesuai dengan harapan. Beberapa kelompok usaha ini diantaranya bakso, nasi goreng, ketoprak, bubur ayam juga angkringan.

Angkringan tergolong kuliner yang unik, karena meskipun berjualan di gerobak namun tidak keliling, tapi mangkal di depan pertokoan atau bangunan yang sudah tutup di malam hari. Kuliner ini sebelumnya menjadi ciri khas di beberapa kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Usaha warung angkringan juga memiliki keunggulan dibandingkan dengan usaha gerobak yang lain. Angkringan rata-rata menawarkan harga jualnya yang amat terjangkau. Harga jual satu bungkus nasi isi teri atau tempe yang sering disebut nasi kucing hanya Rp 2.000-Rp 2.500. Dengan harga yang begitu murah maka pangsa pasar usaha ini begitu banyak.

Seperti Purwanto yang sudah membuka warung angkringan di wilayah Jatiwaringin, Bekasi sejak November 2007. Pria asal Purwodadi, Jawa Tengah, ini mengaku menjalani usaha angkringan karena memang wilayah tempat tinggal dan keluarganya sudah memulai usaha tersebut sejak lama. Sehingga dia hanya meneruskan.

Mengintip Peluang Usaha Angkringan

Sebelum memulai usaha angkringan sendiri, dia membantu usaha sejenis milik pakdenya selama lima tahun. Usaha ini tidak perlu menggunakan modal yang besar. Dana terbesar yang dikeluarkan biasanya untuk membeli gerobak yang harganya saat ini kisaran Rp 4 juta. Setelah itu modal untuk membeli alat masak, alat makan, dan renovasi tempat.

Untuk peralatan masak pada awalnya pun bisa menggunakan alat masak yang sudah ada lebih dulu di rumah. Purwanto mengatakan mungkin hanya perlu modal sebesar Rp 10 juta untuk membuka usaha ini.

Setelah hamper 10 tahun usaha ini, Purwanto pun bersiap akan membuka gerai angkringan keduanya di wilayah Pondok Bambu, Jakarta Timur. Dia menceritakan saat ini sudah mendapatkan tempat mangkal di depan salah satu bengkel motor di daerah Pondok Bambu.

Menurutnya, agar usaha angkringan ini laris manis harus memiliki lokasi yang strategis. Lokasi strategis tersebut adalah berada di jalan besar yang ramai lalu lintas kendaraannya. Persisnya dapat menumpang di depan bengkel/took atau bahkan di parkiran komplek ruko.

Kalua bisa mencari tempat yang luas lebih bagus agar dapat menggelar lesehan di lantai. Selain itu mobil juga bisa dapat parkir di tempat tersebut. Purwanto yang menyewa tempat kecil seharga Rp 400.000 per bulan hanya bisa memuat satu gerobak dan dua meja kecil dengan total kapasitas 15 kursi.

Ia juga menyarankan memilih lokasi di jalan yang arus lalu lintasnya tidak terlalu lancar agar kemungkinan pengguna jalan dapat mampir ke warung tersebut. Purwanto bilang konsumennya adalah para pekerja yang pulang kantor dan warga masyarakat di sekitar lokasi.

Dalam menjalankan usaha ini, Purwanto mengaku hanya dibantu dua orang yang merupakan istrinya sendiri dan adik iparnya. Sang istri membantu proses memasak di dapur dan adik ipar untuk membantu menjaga warung.

Jadwal buka warung akringan Purwanto mulai dari pukul 18.00 WIB sampai pukul 24.00 WIB. Yang mau terjun ke dalam usaha ini memang harus kuat begadang.

Adapun, keunggulan bisnis nasi kucing dibandingkan dengan makanan yang lain adalah di sambal dan varian lauk satenya. Karena selain ada nasi kucing, warung angkringan Purwanto juga menyediakan gorengan bakwan, tahu, dan tempe. Selain tahu dan tempe bacem, dia sediakan pula berbagai jenis sate seperti usus, telur puyuh, otak, paru, ati ampela, ceker, kepala ayam, bakso, otak-otak, dsb. Satenya banyak jenis, tapi bumbunya sama. Di bumbunya inilah yang menjadi kunci.

Dalam sehari dia mengaku menghabiskan 6 liter beras yang dapat dikemas menjadi 110 bungkus nasi kucing. Kemudian untuk lauk satenya dia buat 30 tusuk untuk masing-masing jenis. Harga satenya Rp 3.000 per tusuk. Untuk gorengan masing-masing dia dapat memasak masing-masing jenis 60 buah.

Purwanto mengaku margin usaha makanan memang terbilang besar. Dia menghitung, dalam sehari hanya mengeluarkan uang belanja bahan baku masakan kisaran Rp 500.000 sampai Rp 600.000. sedangkan omzet penjualan per harinya bisa mencapai kisaran Rp 900.000 hinga Rp 1 juta.

Meski mengantongi laba bersih sekitar Rp 300.000-Rp 400.000 semalam, dia merasakan usahanya tersebut belum terlalu besar jika dibandingkan warung angkringan lain milik temannya. Kalau lokasinya ramai seperti di jalan Kalimalang, pegawainya bisa mencapai 4 orang dan omzetnya semalam bisa mencapai Rp 4 juta. Bagaimana tertarik?

Leave a Reply