Menggotong Laba Dari Kreasi Drum Bekas Menjadi Aneka Furniture

Modal terpenting seorang untuk menjadi pengusaha nomor satu adalah kreativitas. Berbekal sentuhan kreativitas itu pula seseorang bisa bisa sukses dalam usahanya.

Seperti yang dilakukan Febrianto Sompi, pemilik Galeri Umah Tong di Cirebon, Jawa Barat. Galeri Umah Tong adalah usaha yang berjualan furniture dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya yang menggunakan drum bekas sebagai bahan bakunya. “Kami fokus jual furniture dari drum,” tutur Febri.

Febrianto yang akrab disapa Febri menceritakan, usahanya baru dimulai Februari 2016. Saat itu, ia bersama dengan rekannya Noval terinspirasi melihat tumpukan drum bekas yang tidak terpakai.

Setelah mendapatkan ide, Febri lantas membeli dua drum bekas sebagai bahan ujicoba karya pertamanya. Dua drum bekas tersebut pun dia ubah menjadi kursi dan lemari dalam waktu sebulan. “Kalau sekarang untuk membuat satu kursi atau lemari hanya butuh waktu dua tiga hari saja,” ungkap Febri.

Menggotong Laba Dari Kreasi Drum Bekas Menjadi Aneka Furniture

Setelah yakin dengan produk yang dibuatnya, Febri pun mulai serius menekuni bisnis ini. Bersama Noval mengeluarkan total modal sekitar Rp 10 juta untuk membeli peralatan modifikasi drum tersebut. Alat-alat yang dibutuhkan seperti alat pemotong besi (cutting) ukuran kecil dan besar, kompresor untuk mengecat, mesin las, dan peralatan lainnya.

Proses pembuatan kursi dan sofa ini adalah pertama membersihkan drum bekas dari pabrik tersebut. Kedua memotong drum sesuai dengna pola yang telah dia buat.

Setelah jadi, menambah rangka dan kaki-kaki untuk kursi agar lebih kuat. Febri pilih menggunakan besi beton dan baja untuk kerangka ini.

Proses selanjutnya setelah drum berbentuk kerangka dilanjutkan dengan pengamplasan agar permukaan lebih mudah saat pengecatan. Agar hasil pengecatan akhir bisa memuaskan, maka perlu menggunakan cat dasar. “Kami menggunakan cat mobil agar tahan panas dan juga tahan oleh hujan,” ungkap Febri.

Harga jual kursi dan sofa buatan Febri termurah  untuk kursi sebesar Rp 350.000 dan termahal adalah dua drum yang digabung menjadi satu berbentuk sofa dengan harga jual mencapai Rp 3 juta. Dia bilang, pelanggan paling sering membeli adalah kafe untuk outdoor.

Dalam sebulan Febri menerima sekitar dua order besar. “Pekan lalu ini kami baru menyelesaikan pengirim 60 item meja dan kursi untuk kafe di Bekasi,” ujarnya.

Dia bilang meskipun rada lama membuat satu produk dari drum bekas tapi marjin usahanya masih menggiurkan diatas 50%. Dia membeberkan jika modal satu sofa hanya Rp 700.000 dan dapat dia jual dengan harga Rp 1.2 juta. Saat ini Febri mampu memproduksi lemari, wastafel dan beragam bentuk yang kreatif lain.

Kegiatan serupa juga dilakukan oleh Dasep. Dasep sebelumnya bekerja di perusahaan yang menjajakan drum bekas. Kini dia membuat kreasi terhadap drum-drum bekas itu sehingga memiliki nilai tambah yang tinggi.

Drum-drum bekas yang merupakan limbah pabrik, selama ini cuma dimanfaatkan sebagai tong sampah ataupun pot bunga dan tanaman buah. Kini dengan sentuhan Dasep, drum bekas ini bisa diubah menjadi aneka jenis furnitur mulai dari meja, kursi, dan sofa. Para pembelinya pun tidak hanya individu tapi juga perusahaan untuk yang dapat digunakan diruang tunggu luar ruangan dan juga restoran atau kafe.

Dasep yang bekerja di Toko Sumber Rejeki, Cikunir, Bekasi menceritakan, ia bekerja di tempat perkulakan jual beli drum bekas sejak 2003 silam. Namun kini, dia bersama pegawai toko lain mengolah drum bekas menjadi kursi dan meja.

Sebuah drum bekas yang nilai awalnya Rp 100.000 bisa naik kelas hingga lima kali lipat menjadi Rp 500.000 setalah berubah menjadi kursi atau meja.

Menurut Dasep permintaan kursi dan meja dari drum bekas saat ini sedang naik daun. Drum bekas yang sudah diolah menjadi kursi, meja ataupun lemari harga jualnya mulai dari Rp 350.000 sampai Rp 1.3 juta per unitnya.

Guna menyelesaikan pesanan kursi atau meja dari konsumen biasanya membutuhkan waktu sepekan sampai barang tersebut dikirim kepada konsumen.

Bahan baku drum bekas ini didapatkan dari kawasan industri di Cikarang. Adapun peralatan untuk memotong dan mengolah drum tersebut pun sudah tersedia di tokonya. “Perbedaannya untuk kursi menggunakan cat kendaraan agar bisa lebih tahan lama. Kemudian untuk sofa joknya kami oper ketukang sofa agar lebih rapih pengerjaannya,” ujarnya.

Karena masih produk baru, Dasep bilang dirinya tidak membuat stock furniture dari drum bekas di tokonya. Alasannya karena akan memakan tempat yang lebih luas. Jadi dia menerapkan pembuatan dilakukan saat ada pesanan saja.

“Sekali order satu set meja dan kursi bisa Rp 6,4 juta,” ujar Dasep. Dia bilang dengan menjual produk furnitur drum bekas marginnya bisa diatas 25% jauh lebih besar dibanding hanya berjualan tong sampah saja.

Sayang, penjualan furnitur dari drum bekas Dasep belum terlalu ramai. Mungkin salah satu alasannya karean Dasep masih menggunakan cara lama yakni menawarkan barang tersebut di depan toko saja.

Sementara Sukarno, pemilik usaha drum bekas UD Mandiri di Serpong, Tangerang Selatan telah mencoba membuat kursi dan meja dari drum setahun terakhir. Selama belasan tahun menggarap drum bekas jadi tong sampah. Dia mulai mencoba membuat kursi dan sofa dari drum bekas karena permintaan dari salah satu konsumen.

Nano, sapaan akrab dari Sukarno mulai rutin membuat sofa dari drum bekas sejak 2015. Sampai saat ini dia sudah mengirimkan produk kerajinannya ke wilayah Jabotabek hingga ke Bandung Jawa Barat.

Menurut Nono, margin mengolah drum bekas menjadi furnitur dengan tong sampah tak jauh beda. Apalagi membuat sofa prosesnya lebih panjang ketimbang membuat tong sampah. Meski “Untungnya bisa diatas 30%,” ungkap Nano.

Proses produksi sofa dari drum bekas lebih panjang lantaran harus dikerjakan tukang kayu dan sofa agar produk yang dihasilkan lebih cantik. Beda dengan tong sampah yang dapat dia langsung kerjakan sendiri di bengkelnya.

Dia membandingkan jika sehari bengkelnya membuat 20 tong sampah, jika memproduksi kursi dan meja baru selesai dalam waktu 3 hari. Harga jual produknya kursi, mulai dari Rp 350.000 dan untuk sofa bisa mencapai Rp 2 juta. “Kursi dan sofa bisa terjual minimal dua set sebulan,” ujar Nano.

Tips Memulai Usaha Furniture Dari Drum Bekas

Meskipun usaha membuat furniture dari drum bekas merupakan hasil kreativitas, menjiplak bisnis tak sulit. Ada beberapa tip memulai usaha ini.

Pertama, mempelajari pengolahan hasil karya drum bekas ini secara autodidak. Nano bilang yang terpenting adalah kemauan mengerjakan bisnis ini.

Dengan sentuhan kreativitas tampilan furnitur drum bekas bisa lebih menarik ketimbang produk yang sudah beredar.

Kedua, karena ini usaha daur ulang drum bekas maka yang harus dipastikan adalah sumber bahan baku drum bekasnya. Biasanya para pemain ini mengambil dari kawasan industri terdekat di lokasinya agar bisa mendapatkan harga miring.

“Kalau membeli drum langsung di pabrik harga per drum bisa Rp 100.000 sedangkan kalau ditempat kulakan bisa menjadi Rp 125.000,” ujar Febri.

Ketiga, pastikan memiliki tempat memadai yang untuk bengkel. Disarankan tempat tersebut jauh dari pemukiman karena pengerjaan drum bekas ini akan menimbulkan suara bising dan juga bau cat yang menyengat.

Keempat, lengkapi peralatan daur ulang drum tersebut. Perlengkapan yang dimaksud seperti alat pemotong besi, kompresor untuk proses pengecatan dan peralatan lain untuk membentuk drum bekas ini.

Kelima, pemasaran yang baik. Dari ketiga pemain ini, Febri adalah pemain yang memiliki strategi pemasaran yang baik. Dia menawarkan produknya diinternet seperti blog dan berbagai di sosial media seperti instagram dan twitter.

”Karena pemasaran saya digital, pembeli saya ada yang berasal dari Palu, Sulawesi Tengah sampai ke Palembang, Sumatra Selatan,” ujar Febri. Selain itu rajin-rajin mengikuti pameran agar produknya makin dikenal banyak orang.

Bagaimana berminat dengan peluang usaha drum bekas ini?

Baca juga:

Leave a Reply