Kisah Sukses Tiga Sahabat Menggoreng Laba Bisnis Cireng Salju

Rutinitas sebagai pekerja kantoran terkadang membosankan dan kurang tantangan. Itulah yang dirasakan Dimas Aritejo, pekerja salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terbakar semangat untuk berbisnis.

Pada saat bertugas di Manado sekitar 2010, Dimas sempat membuka restoran dan kafe di Manado, Sulawesi Utara bersama rekannya. Namun, usaha ini hanya bertahan dua tahun, lantaran dia sendiri harus pindah tugas ke kota lain.

Ide bisnis Dimas tak berhenti sampai di situ. Namun, ide bisnis itu kembali muncul saat ia mengunyah cireng bikinan rekannya bernama Najib Wahab sekitar 2013. Ia merasakan cireng ini lain, teksturnya lembut di dalam, tapi renyah di luar. Najib memang rutin membuat cireng sejak 2011 tapi pemasaran angot-angotan, dan hanya berproduksi saat ada pesanan teman atau saudara.

Di situlah, Dimas berinisiatif mengembangkan bisnis cireng buatan Najib dengan profesional. Namun gayung tak bersambut, Najib belum yakin produk cireng buatannya bisa menjadi bisnis yang besar.

Lalu hampir setahun berlalu, setelah jualan cireng menjadi tren di masyarakat, Najib pun mengontak Dimas dan rekanya yang lain Catur Gunadi. Dari sini lah ketiga pemuda ini sepakat menjalankan bisnis secara profesional di awal 2014.

Kisah Sukses Tiga Sahabat Menggoreng Laba Bisnis Cireng Salju

Pembagian tugasnya, Najib di bagian pengembangan produksi, Catur mengurus keuangan dan sumber daya manusia, sedangkan Dimas bertugas untuk pemasaran dan branding. Mereka mendirikan PT Bonju Indonesia Mas dengan modal sekitar Rp 100 juta dibagi bertiga, untuk membeli peralatan masak, sewa rumah untuk rumah produksi, dan membeli mobil bekas untuk distribusi produk.

Awalnya Produksi Cireng Secara Manual

Perusahaan ini berjualan cireng dengan menggunakan merek Cireng Salju. Mereka membuat produk cireng ini dengan kemasan menarik dan sistem penjualan lewat distributor alias tidak langsung ke konsumen. Pada Juni 2014 Cireng Salju resmi meluncur ke pasar, berbarengan dengan acara pameran wirausaha di Taman Mini Indonesia Indah.

Niat berbisnis secara profesional yang mereka maksud bukan sekadar menggunakan merek dan kemasan berkualitas. Najib dan kawan-kawan sepakat harus memiliki proses produksi dengan standar operasional prosedur (SOP) yang tegas sehingga efisien. Misalnya spesifikasi pekerjaan membuat adonan bahan baku sampai tahap pengemasan. “Awalnya produksi kami secara manual, sekarang semi otomatis menggunakan mesin,” kata Dimas.

Demi menjami kualitas produksi Cireng Salju telah mengurus sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan izin Dinas Kesehatan setempat.

Perlahan tapi pasti bisnis Cireng Salju terus mekar. Jika di awalnya hanya memperkerjakan 7 orang, saat ini sudah mencapai 90 orang. Sebagian besar karyawan untuk bagian produksi. Jika diawal mereka memproduksi dengan menyewa satu rumah, saat ini produksi Cireng Salju berasal dari tiga rumah ditambah satu tempat untuk kantor. Dua dari tiga rumah yang dijadikan tempat produksi saat ini statusnya sudah jadi aset tetap perusahaan.

Sistem Distribusi

Soal apa resep yang membuat bisnis aci goreng ini bisa melejit, menurut Catur Gunadi, salah satunya adalah prinsip menahan lapar agar usaha terus berkembang dengan sehat. Nah di PT Bonju Indonesia Mas, tiga orang pendiri sepakat tidak membagikan deviden, dan menggunakannya untuk pengembangan usaha. Sementara mereka hanya menerima gaji sebagai manajemen saja.

Kini aset PT Bonju makin gendut, hingga mencapai kisaran Rp 5 miliar. Tapi, layaknya bisnis lain, lebih penting di bisnis ini yakni aliran kas alias cash flow, perputaran barang.

Meski baru memulai bisnis sekitar 3 tahun yang lalu, Dimas mengaku pertumbuhan Cireng Salju tergolong pesat. Saat ini kapasitas produksi harian sebesar 5.000 bungkus. Cireng Salju juga meluncurkan produk cilok pada akhir 2015, dan cuankie pada 2016.

Saat ini kapasitas produksi cilok dan cuankie masing-masing 1.000 bugkus per hari. Adapun harga jual produk ketingkat distributor kisarannya dari Rp 12.000 sampai Rp 20.000. dengan pencapaian tersebut, omset Cireng Salju mencapai Rp 1 miliar per bulan. “Marjin kami kisaran 15%-20%, kuncinya adalah efisiensi produksi,” ungkap Dimas.

Rahasia lain yang membuat pertumbuhan bisnis Cireng Salju cepat karena menggunakan sistem berjualan distributor dari produksi ke distributor turun ke agen kemudian turun ke reseller dan baru sampai ke konsumen. Saat ini ada sekitar 40 distributor, 600 agen dan ribuat reseller. Sebagian besar wilayah Indonesia sudah ada distributor Cireng Salju kecuali Sulawesi, Maluku dan Papua.

Kini PT Bonju bersiap menembus gerai ritel modern melalui jaringan distributornya. “Kami harus buat standarisasi distributor,” ungkap Dimas.

Informasi lebih lanjut mengenai usaha kuliner ini, hubungi:

PT Bonju Indonesia
Komp Sarua Makmur No 8 Pamulang 2, Ciputat, Sarua Tangerang Selatan 15414
Email : info@cirengsalju.com
Telp : 0813 266 666 10
SMS : 0813 266 666 10
LINE : @CirengSalju
BBM : 5AB8EA69
Website: http://cirengsalju.com

Baca juga:

Leave a Reply