Kisah Hardadi Merintis Singkong Keju D-9 Saat Keluar Dari Bui

Jalan terjal selalu menghadang langkah seorang pesakitan kasus narkoba yang ingin kembali ke jalan yang benar. Hanya tekad kuat dan dukungan orang-orang dekat di sekitar yang mampu menguatkan mereka untuk benar-benar terbebas dari jerat narkoba.

Pengalaman inilah yang dirasakan oleh Hardadi pengusaha olahan singkong sekitar satu dasawarsa silam. Sebelum dikenal dengan produk Singkong Keju D-9, Hardadi sempat tertatih-tatih memulai usaha dengan gerobak dorong di Alun-alun Kota Salatiga Jawa Tengah.

Awal Usaha Singkong Keju D-9

Ia memulai usaha itu pada akhir 2009 selepas dari hukuman enam bulan akibat kasus narkoba. Selain menjadi pedagang kaki lima, ia sempat membuka warung makan, juga usaha jus buah.

Pria kelahiran Sragen, Agustus 1971 ini bercerita momen perubahan hidupnya berawal saat mendekam di lembaga Pemasyarakatan Surakarta selama enam bulan. Meski saat itu dalam keadaan sulit, Hardadi mengaku dukungan terus berdatangan dari orang tua, keluarga dan sanak saudara.

Singkong Keju D-9

Pertimbangan Hardadi berjualan singkong karena bahan bakunya melimpah di Salatiga yang dikenal dengan makanan olahan dari singkong seperti getuk. Singkong keju dipilih karena pada saat itu belum ada yang menjual singkong keju di wilayah Salatiga. “Mungkin saya yang pertama jual singkong keju di sini,” ujar Hardadi.

Modal awal usaha singkong keju Hardadi Rp 2,2 juta yang didapat dari hasil pinjaman lunak Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Dana tersebut digunakan untuk membeli gerobak sebagai tempat berjualan. Sementara untuk peralatan masak dan dapur mengandalkan yang ada di rumah.

Usaha menjual singkong dipilih juga karena bahan bakunya yang terbilang murah. Harga singkong mentah saat itu berkisar Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per kilogram. “Awalnya saya hanya belanja 3 kg singkong. Kemudian beli minyak goreng dan keju yang harganya sekitar Rp 50.000,” kata Hardadi. Saat itu, Hardadi berjualan dibantu satu orang temannya.

Seiring waktu singkong keju Hardadi makin banyak dikenal orang. Tidak hanya rajin melakukan inovasi produk, Hardadi juga melakukan inovasi pelayanan yakni menerima pengantaran produk ke rumah pelanggan. Diapun beberapa kali ikut pameran produk usaha kecil menengah (UKM) di berbagai daerah.

Usaha Singkong Keju D-9 Semakin Besar

Memasuki 2013, Hardadi sudah tidak berjualan singkong lagi di gerobak, tapi pindah ke rumah orang tuanya yang terletak di Jalan Argowoyoto, Salatiga. Pertimbangan pindah berjualan karena saat itu order terus membludak. Dia mampu mengolah bahan baku singkong sebanyak 2 kuintal sehari. “Saat itu pula istri saya berhenti dari karyawan pabrik karena turut membantu usaha,” ujar suami dari Diah Kristanti ini.

Sejak pindah itulah, Hardadi mulai menggunakan merek Singkong Keju D-9. Nama D-9 berasal dari nomor blok dan sel saat ia menjalankan hukuman.

Saat pindah usaha ke rumah, usaha singkong kejunya pun semakin membesar. Rumah orang tuanya yang berukuran 45 meter persegi (m2)pun sudah tidak muat lagi. Walhasil pada 2015, Hardadi membeli sebidang tanah seluas 500m2 seharga Rp 300 juta yang berlokasi di seberang rumah. Tempat itulah yang kini jadi toko sekaligus kafe Singkong Keju D-9.

Hingga akhir 2016 singkong keju D-9 mengolah bahan baku singkong minimal 2 ton seharinya. Dari bahan baku tersebut dia mampu menghasilkan aneka olahan singkong 1.5 ton. Adapun jumlah karyawan sebanyak 100 orang yang terdiri dari bagian mengolah bahan, memasak, dan bagian pengemasan.

Adapun harga jual produknya mulai Rp 10.000 per bungkus untuk singkong siap goreng dan paling mahal Rp 18.000 untuk singkong coklat keju. “Omzet penjualannya lebih dari Rp 10 juta sehari,” ujar Hardadi yang enggan merinci berapa persis omzet usahanya.

Meski hingga kini Singkong Keju D-9 belum punya cabang Hardadi bilang sudah memiliki sekitar 20 reseller yang berada di kota-kota besar di Pulau Jawa. “Kami tidak buka cabang karena saya ingin Singkong Keju D-9 menjadi ikon Salatiga,” ujar Hardadi.

Meski bertahan di Salatiga, ia menyebut permintaan dalam jumlah jumbo tetap mengalir dari luar. Misalnya permintaan dari wilayah kerja PT Freeport di Papua yang awalnya Cuma 20 bungkus, pada Januari 2017 lalu pengiriman sudah mencapai 9 ton sebulan. Hanya saja kini ia khawatir gonjang-ganjing di Freeport bakal mempengaruhi pesanan dari sana.

Pun demikian ditengah lonjakan pesanan Hardadi terus berupaya mengamankan pasokan bahan baku singkong yang terus menipis dari Salatiga. Kami dapat komitmen pasokan 4 ton per hari dari Wonosobo,” katanya.

Info lebih lanjut mengenai usaha olahan singkong ini, hubungi:

Singkong Keju D-9
Alamat: Jl. Argowiyoto No.8A, Ledok, Argomulyo, Kota Salatiga, Jawa Tengah 50732
Telp: 0878-2192-7093

Baca juga:

Leave a Reply