Jemi Rikaldo ~ Miliki 1,5 Hektar Kebun Kopi Luwak Liar, Omset Ratusan Juta Setiap Bulan

From zero to hero, mungkin itu merupakan kata yang cocok untuk menggambarkan perjalanan Jemi Rikaldo menjadi seorang entrepreneur. Sempat bangkrut di usaha MLM di bidang kesehatan, Jemi bangkit lewat bisnis kopi luwak yang banyak diminati dalam dan luar negeri. Dari hasil usahanya tersebut, Jemi mampu membeli kebun kopi seluas 1,5 hektar, rumah, kendaraan, hingga peralatan produksi hanya dalam waktu kurang dari 3 tahun. Seperti apa kisah sukses Jemi mengembangkan usahanya?

Awal Bisnis Kopi Luwak “Jim’s Coffee”

Kopi merupakan salah satu minuman yang banyak disukai hampir berbagai usia, di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri kegiatan minum kopi atau yang lebih dikenal dengan istilah ngopi sudah menjadi gaya hidup (lifestyle) yang tidak hanya di kota besar, tapi juga di daerah. Tidak heran dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan coffee shop semakin menjamur mulai dari kelas kaki lima hingga bintang lima.

Semakin meningkatnya jumlah coffee shop tentu berbanding lurus dengan peningkatan permintaan akan biji kopi atau kopi bubuk guna memenuhi kebutuhan coffee shop tersebut. Tak heran bila prospek bisnis penjualan bubuk kopi akan semakin harum. Terlebih Indonesia dikenal memiliki jenis kopi yang banyak disukai pecinta kopi seluruh dunia, salah satunya adalah kopi luwak.

Bahkan karena rasanya yang khas, tingginya permintaan, dan produksinya yang terbatas membuat harga kopi luwak jauh lebih mahal dibanding jenis kopi lainnya. Karena menjanjikan keuntungan yang besar, tak heran bila banyak pelaku usaha tertarik menggeluti usaha kopi luwak, salah satunya adalah Jemi Rikaldo. Pria yang akrab disapa Jemi ini menekuni usaha kopi luwak sejak 2009 dengan brand Jim’s Coffee yang sukses menembus pasar luar negeri dengan omset hingga ratusan juta per bulan.

Tanpa Sengaja

Dikatakan Jemi, sebelum menekuni usaha Jim’s Coffee, Jemi tengah dalam kondisi bangkrut dan meninggalkan hutang ratusan juta lantaran bisnis MLM di bidang kesehatan. Di tengah kondisi tersebut ada salah seorang temannya yang mengajaknya untuk bisnis ekspor kopi luwak ke Korea.
Walau tanpa memiliki modal, tak membuat Jemi kehilangan akal. Jemi lantas mendatangi petani-petani kopi luwak dan meminta pembayaran mundur setelah produk laku terjual. Sayang setelah terkumpul 100 kilogram, rekannya tersebut gagal mengekspor kopi luwak Jemi. Kondisi tersebut tidak membuat Jemi putus asa. Suami dari Rika Ratnasari ini memutuskan untuk menjual sendiri kopi luwak yang telah dikumpulkan petani.
Langkah Jemi menjual kopi luwaknya dengan menawarkan ke toko-toko hingga keluar masuk kantor dan instansi di Bandar Lampung. Hasilnya kopi luwak yang dijual mendapat respons yang positif dari masyarakat dan pesanan mulai datang secara perlahan. Dari hasil keuntungan tersebut Jemi putar kembali untuk menambah stok kopi luwaknya.

Jemi Rikaldo ~ Miliki 1,5 Hektar Kebun Kopi Luwak Liar, Omset Ratusan Juta Setiap Bulan

Luwak Liar

Jika biasanya pelaku usaha kopi luwak lainnya menangkarkan luwak untuk memproduksi kopi luak, berbeda dengan Jemi. Jim’s Coffee menggunakan bahan baku kopi luwak liar yang memiliki cita rasa dan aroma lebih khas dibandingkan dengan luwak yang ditangkar.
Pria yang hobi travelling ini mengaku tidak memiliki kesulitan mengumpulkan kopi luwak liar. Pasalnya di daerahnya, luwak banyak hidup di alam bebas. Tak heran bila Jemi mengaku mampu memproduksi hingga 500 kg kopi luwak tiap bulannya.

Jim’s Coffee menawarkan semua jenis kopi yang ada di Indonesia mulai dari Robusta, Arabica, Liberica, dan Robinson dengan harga yang bersaing. Untuk Kopi Luwak Liar Robusta dan Kopi Luwak Liar Arabica ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 100-150 ribu/100 gram, sedangkan untuk Kopi Liberica dan Kopi Robinson Tradisional sehiarga Rp 15 ribu/100 gram. Namun jika pelanggan ingin mendapat harga murah, Jemi menyediakan biji kopi yang dapat digiling sendiri oleh pelanggan.

Selain itu Jim’s Coffee juga menawarkan Kopi Lanang yaitu kopi untuk pasutri penambah stamina pria seharga Rp 20 ribu/100 gram dan Kopi Durin seharga Rp 25 ribu/box isi 5 sachet.

Kini Jim’s Coffee telah mensupply kopi luwak ke café-café, dan jaringan supermarket. Agar pemasarannya semakin luas, Jemi membuka kerja sama keagenan bagi siapa saja yang tertarik memasarkan Jim’s Coffee.

Menurut Jemi syarat untuk menjadi Agen Jim’s Coffee cukup membeli kopi senilai Rp 5 juta dengan diskon hingga 40% dari harga jual. Kini Jim’s Coffee telah memiliki lebih dari 20 Agen yang tersebar di Lampung, Palembangm, Jakarta, Bali, Lombok, Sulawesi, hingga Malaysia dan Singapura.

Kebun Hingga Kendaraan

Dengan produk yang berkualitas serta ditunjang jaringan pemasaran yang luas tidak heran bila Jemi mengaku mampu menjual sekitar 100 kh kopi luwak per bulan dan meraup omset ratusan juta per bulan.

Dari hasil usaha Jim’s Coffee, Jemi berhasil melunasi hutangnya dari bisnis terdahulu yang berjumlah Rp 125 juta. Tidak hanya itu, hanya dalam 3 tahun Jemi juga berhasil membeli kebun kopi seluas 1,5 hektar lengkap dengan mesin produksi kopi yang meningkatkan kapasitas produksi Jim’s Coffee. Jemi juga telah membeli sebuah rumah dan kendaraan untuk keluarganya.

Ke depan Jemi ingin membuat Jim’s Coffee menjadi salah satu perusahaan kopi yang diperhitungkan. Untuk itu Jemi gencar melakukan branding dan promosi dengan cara memasang iklan di media baik cetak maupun elektronik, hingga mengikuti pameran baik di dalam maupun di luar negeri.

Info lebih lanjut tentang usaha kopi luwak ini, hubungi :

Jim’s Coffee
Cluster Citra Mas Blok A2 No. 6 Kemiling Permai Bandar Lampung
Telp : 087899868787

Baca juga:

Leave a Reply