Caryono~ Sukses Usaha Budidaya Lidah Buaya, Kewalahan Penuhi Permintaan Pasar, Omset Rp 30 Juta

Melihat peluang pasar lidah buaya begitu besar, Caryono pun tertarik untuk terjun di usaha budidaya lidah buaya. Menariknya, tanaman ini kaya manfaat untuk kesehatan sebagai penyubur rambut, penyembuh luka, dan perawatan kulit. Setiap bulan ia kewalahan memenuhi permintaan pasar dengan omset hingga Rp 30 juta. Seperti apa kisah sukses usaha budidaya lidah buaya yang dikembangkan Caryono?

Awal Usaha Budidaya Lidah Buaya

Dari sekedar hobi mengoleksi tanaman, menginspirasi Caryono membudidaya lidah buaya. Di atas lahan seluas 2.500 meter persegi. Yono, sapaan akrabnya, menanam lidah buaya sebanyak 700 pohon berada tak jauh dari rumahnya di Telaga Kahuripan, Bogor, Jawa Barat. Dalam memulai usaha, Yono melengkapi peralatan tani dengan arit, cangkul, kaos tangan dan golok yang ia beli di pasar sekitar rumah.

Usaha dirintis Yono mulai April 2004 lalu. Pada awalnya ia berkeliling melihat prospek tanaman lidah buaya. Ternyata dari pengamatannya, usaha budidaya lidah buaya mampu bertahan di tengah kelesuan dunia usaha yang cukup terasa. Apalagi, melihat manfaat untuk kesehatan yang cukup besar membuat lidah buaya selalu dicari.

Yono lalu dengan mantap memilih usaha budidaya lidah buaya. “Awalnya saya memang belum pernah terjun di bisnis agribisnis, namun ternyata peluang usaha bidang agribisnis sangat menggiurkan di tengah perekonomian yang lesu saat ini. Saya pun tertarik dengan usaha budidaya lidah buaya ini. Pelepahnya besar dan bermanfaat untuk kesehatan. Dan lidah buaya ini cocok untuk dikembangkan,” tutur mantan kontraktor ini.

Saat mulai menanam lidah buaya, modal yang dikeluarkan Yono kurang lebih Rp 16 juta. Modal tersebut digunakan untuk membeli bibit sebanyak 700 pohon lidah buaya seharga Rp 8-10 ribu/pohon, dan sisanya ia belanjakan pupuk dan perlengkapan tani seperti cangkul, alat siram dan lainnya. Bibit lidah buaya dibeli Yono dari pembibit di Parung, Bogor, Jawa Barat. Sementara pupuk dan perlengkapan usaha dibeli di toko sarana pertanian diseputaran tempatnya tinggal di Bogor.

Sukses Usaha Budidaya Lidah Buaya, Kewalahan Penuhi Permintaan Pasar, Omset Rp 30 Juta

Lidah Buaya ( Aloe Vera)

Tanaman ini tumbuh di tempat yang berhawa panas. Daunnya agak runcing berbentuk taji, tebal, getas, tepinya bergerigi / berduri kecil, permukaan berbintik-bintik, panjang 15-36 cm, lebar 2-6 cm, bunga bertangkai yang panjangnya 60-90 cm, bunga berwarna kuning kemerahan (jingga), dan batangnya tidak kelihatan karena tertutup oleh daun-daun yang rapat dan sebagian terbenam dalam tanah.

Tanaman lidah buaya semakin populer sebagai sumber penghasil bahan baku untuk aneka produk industri makanan, farmasi, dan kosmetik. Hal tersebut mengingat potensi sumber daya alama Indonesia telah terbukti sangat sesuai untuk budidaya tanaman lidah buaya, yaitu seperti yang telah ditunjukkan dari pengalaman budidaya tanaman tersebut di berbagai daerah terutama di Pulau Jawa dan Kalimantan.

Kelebihan dari lidah buaya, antara lain daunnya dapat diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman seperti sejenis jeli, minuman segar jus, nata de aloe, dawet, dodol, selai dan lain-lain. Makanan dan minuman hasil olahan lidah buaya sangat berpotensi sebagai makanan / minuman kesehatan. Karena kelebihan itu, Yono memilih membudidaya tanaman lidah buaya. “Tanaman ini bisa produksi 8000 kg/ha, dengan bagian pelepah yang dipanen dapat mencapai 1.5 kg per pelepah,” ucap Yono.

Produk dan Harga Lidah Buaya

Yono mematok lidah buaya dengan harga Rp 5000 per kg untuk kelas kualitas mulus bobot 1 kg sedangkan kualitas lidah buaya lainnya yang memiliki berat 1 kg dibanderol dengan harga Rp 3 ribu per kg. Dalam menjual lidah buayanya kepada konsumen, Yono memberikan minimum order sebanyak dua kwintal untuk permintaan yang datang dari pasar lokal dan pengepul.

Dalam pengemasan, Yono hanya menggunakan kardus yang diisi koran bekas agar dalam pengiriman lidah buaya teratur dan rapat.

Pemasaran

Dari awal Yono melakukan pemasaran lewat mulut ke mulut. Ia pun kerap menjalin komunikasi bisnis dengan sesama petani parung lainnya untuk membantu pemasarannya.

Dalam satu bulannya Yono bisa menjual 1-2 ton pelepah lidah buaya. Pelepah tersebut selain dijual langsung ke pengunjung kebun, juga dijual kepada pedagang buah di Parung. Untuk sistem pembayarannya Yono menerapkan sistem cash, baik itu pembelian skala kecil maupun besar.

Pembelian lidah buaya dapat dilakukan baik secara langsung dengan mendatangi kebun ataupun via telepon. Bagi konsumn yang memesan via telepon biasanya buah akan dikirim lewat jasa ekspedisi, dengan ketentuan pembayaran dilakukan langsung cash dan ongkos kirim ditanggung konsumen. Untuk packaging buah lidah buaya, Yono menggunakan dus bervolume 5 kg.

Dengan hasil panen kurang lebih 20 ton perbulan dengan harga Rp 3 ribu s/d Rp 5 ribu, maka bisa diasumsikan omset yang dikantongi Yono adalah sebesar Rp 30 juta dengan keuntungan bersihnya sekitar 50%. Dalam menjalankan usaha budidaya lidah buaya ini, Yono dibantu 3 orang tenaga kerja lainnya yang digaji Rp 50 ribu/ hari.

Kendala dan Prospek Usaha

Saat lidah buaya mulai tumbuh besar, tanaman ini kerap diserang oleh beberapa hama seperti ulat atau belalang yang menyerang bagian pelepahnya. Namun karena tidak terlalu berpengaruh maka biasanya hama ini didiamkan saja. Lidah buaya juga terkadang terkena penyakit busuk akar yang diakibatkan karena terlalu banyak penyiraman. Penyakit lainnya berupa ujung pelepah yang mengering yang disebabkan oleh kutu yang bila tidak ditangani akan merambat ke pelepah yang lain. Untuk mengatasinya, sebaiknya dilakukan pemotongan pada pelepah yang terkena penyakit. Untuk mengalihkan perhatian hama tersebut, pada sekitar lidah buaya dapat menambahkan tanaman pagar seperti sengon, mindi, suren, dan lain-lain.

Persaingan pasar produk lidah buaya belum terasa menyulitkan para petani pada saat ini. Peluang pasar lidah buaya dianggap besar dengan alasan antara lain produk minuman dari lidah buaya. Lidah buaya segar (setelah dikupas kulitnya) dapat digunakan sebagai obat, bahkan kulitnya pun dapat digunakan sebagai substitusi teh. Lidah buaya dapat diproses menjadi aneka produk berupa gel, konsentrat/ekstrak, produk-produk makanan dan minuman (nata de aloe, dawet, dodol, dll), atau bubuk yang selanjutnya menjadi bahan baku dalam industri farmasi, kosmetik, dan pupuk daun,”.

Hingga saat ini pedagang lidah buaya dianggap belum mampu memenuhi permintaan pasar luar negeri seperti Singapore, Malaysia, Taiwan, dan sebagainya,” ujarnya.

Info lebih lanjut mengenai agribisnis budaya lidah buaya ini, hubungi:

Caryono “Pembudidaya Lidah Buaya”
Kp. Sugu Tamu RT 05/28 No 49, Bakti Jaya, Sukma Jaya, Depok, Jawa Barat
No Hp : 087776077766, 08129055138

Baca juga:

2 thoughts on “Caryono~ Sukses Usaha Budidaya Lidah Buaya, Kewalahan Penuhi Permintaan Pasar, Omset Rp 30 Juta

Leave a Reply