Bisnis Penjualan Burung Menggeliat Lagi, Tapi Kini Ramai di Online

Memandikan dan membersihkan sangkar burung kini menjadi rutinitas Safrudin (50 tahun) saban pagi. Pria yang tinggal di Beji Depok, Jawa barat, ini kembali menggeluti usaha sampingan, berdagang burung.

Ia menggeluti lagi hobi yang sekaligus sebagai usaha sampingan ini lantaran terpaksa berhenti bekerja sebagai sopir angkutan jemputan anak sekolah di Bogor, Jawa Barat. “Saya pelihara burung lagi dari pada tidak ada kerjaan,” akunya.

Safrudin memiliki puluhan burung. Salah satunya anakan burung cucak ijo yang mulai pandai berkicau. Burung itu dia beli dengan harga ratusan ribu rupiah, dan kalo sudah pandai berkicau harganya bisa mencapai jutaan.

Ia pun berharap minat warga untuk mengoleksi burung bangkit lagi. Dengan begitu ia bisa merintis lagi jual beli burung yang pernah ia tekuni beberapa tahun yang lalu.

Bisnis Penjualan Burung Menggeliat Lagi, Tapi Kini Ramai di Online

Meningkatnya minat masyarakat untuk mengoleksi burung juga dirasakan  oleh Ketut Saputra, penangkar burung asal Pupuan, Tabanan, Bali. “Sekarang kegemaran masyarakat mengoleksi burung mulai balik lagi,” ungkapnya.

Sejatinya bisnis burung terbilang stabil karena sudah berlangsung cukup lama. Alhasil bisa tetap bertahan sepanjang masa. Selain itu, pecinta burung sebarannya sangat luas. Di beberapa daerah ada jenis burung khas yang susah berkembang biak di tempat lain.

Meski begitu, Saputra tak menampik usaha burung yang ia geluti sempat terpengaruh booming batu akik. “Harga burung sempat jatuh saat ramai batu akik. Sekarang pasar burung bergairah lagi,” ujarnya.

Berawal dari hobi, Saputra sudah empat tahun terakhir ini menangkarkan beberapa jenis burung. Mulai burung langka seperti jalak Bali, murai, kacer, punglor, dan jenis burung lainnya. Cuma, menjadi penangkar burung tidak gampang. Butuh pengetahuan dan keahlian khusus plus modal yang lumayan besar.

Resiko gagal atau kematian anakan juga tinggi. “Untuk satu indukan jalak Bali saja sudah Rp 20 juta, belum pembangunan kandang, pakan, dan biaya perawatan,” bebernya.

Saputra memasarkan sebagian dari hasil tangkaran ke wilayah Bali, Lombok, dan Pulau Jawa. Menurut dia, permintaan burung anakan terutama jalak Bali paling banyak dari penggila burung di Pulau Jawa. “Prospek bisnis burung sangat menjanjikan,” aku Saputra.

Ya, bisnis burung memang sangat menggiurkan. Maklum, harga burung terkadang tidak rasional. Bahkan bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta, jika memiliki keistimewaan dan keunikan tingkat tinggi. Saputra menjual sepasang anakan jalak Bali dengan banderol Rp 10 juta, murai Rp 2,3 juta, dan punglor mulai dari Rp 800 ribu.

Penjual Daring

Burung hasil tangkaran Saputra dipasarkan melalui dua cara. Pertama, burung dijual kesesama komunitas pehobi burung. Pasalnya ia tergabung pada komunitas penangkar burung terbesar di Pulau Dewata, di bawah pengawasan Bali Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) provinsi Bali. Kedua, menjual langsung kepada konsumen. “Tapi saya lebih sering jualnya ke komunitas,” akunya.

Sesekali, ia mendapat calon pembeli via media sosial seperti facebook. Bagi Saputra, penjualan secara online sedikit banyak membantu dalam pemasaran. Facebook dan Instagram boleh menduduki urutan pertama pemasaran para pebisnis burung, terutama bagi kelas UKM karena gratis.

Bagi Febrian Akbar Prasetya, menjual burung secara daring memiliki kelebihan lantaran bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Sejak setahun lalu, pemuda asal Surabaya ini menjual burung jenis murai batu dengan memanfaatkan e-commerce marketplace. “Sebelumnya, kalau jual offline dalam sebulan hanya laku paling banyak tiga ekor. Sejak jualan online bisa 30 ekor per bulan,” sebutnya.

Febrian mengatakan, tren menjual burung lewat jalur daring seperti iklan baris di OLX mulai terasa satu tahun terakhir ini. Cara ini memudahkan pecinta burung mencari piaraan incarannya lewat iklan online. Jenis burung yang menjadi tren dalam penjualan dunia maya antara lain murai batu, kenari, cucak ijo, dan lovebird.

Diantara ketiga jenis tersebut, Febrian memilih murai batu lantaran bisa menirukan suara jenis burung lainnya. “Suaranya bisa berubah-ubah menjadi suara burung kenari, cucak ijo atau lovebird,” tuturnya yang sudah 10 tahun menekuni bisnis burung.

Harga murai batu yang ditawarkan dari mulai Rp 1.5 juta – Rp 2.5 juta. Margin yang bisa dia kantongi sekitar 30% – 50%

Namun, untuk burung cacat, selain memberi potongan harga 50%, Febrian terpaksa melepas di bawah modal. “Bisa jual Rp 500.000 tergantung kondisi, hitungannya rugi tapi daripada tidak laku,” akunya.

Menjual barang hidup lewat jalur online bukan perkara mudah. Banyak tantangan dalam proses pengiriman. Penjual bisa berujung di bui apabila burung yang dijual ilegal. Penjual juga bisa dituntut ganti rugi tinggi oleh calon pembeli lantaran burung yang dikirim tidak sesuai pesanan atau berbeda dari iklannya di internet.

Tips / Kiat  Bagi Penjual Burung Secara Online

Nah, berikut ini beberapa kiat yang perlu diperhatikan oleh penjual burung secara online agar tidak menemui masalah tersebut.

Sertifikat resmi

Ya, hati-hati kalau anda memiliki dan memperdagangkan hewan langka atau dilindungi. Jika ceroboh, anda akan mengalami nasib sial seperti kasus yang menimpa seorang pedagang burung dari Klaten, Jawa Tengah. Saat itu si pedagang diseret ke pengadilan gara-gara memiliki enam ekor burung jalak Bali. Tiga ekor diantaranya memiliki sertifikat tapi setelah dicocokkan tidak sama dengan kode ring di kaki burung. Pedagang itupun terpaksa berurusan dengan polisi.

Agar burung yang ditakangkarkan atau diperjualbelikan tidak berurusan dengan penegak hukum, Saputra menyarankan, perlunya mengurus sertifikat burung ke BKSDA sehingga statusnya menjadi legal. Pada dasarnya setiap penangkar boleh menjual hasil breeding ke pada orang lain, dengan syarat burung harus dipasangi kode ring ketika berumur 5-15 hari.

Kode ini harus dicantumkan pula dalam sertifikat. “Yang mengeluarkan sertifikat ini BKSDA,” terang Saputra.

Pembeli pun bisa mengetahui hewan peliharaan itu legal atau tidak dengan mencocokkan antara kode ring dan sertifikat tersebut. Dengan demikian penjual, penangkar, dan pembeli bebas ancaman hukum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Foto terbaru

Penjualan burung berbasis jaring sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan platform marketplace cukup efektif menjangkau pembeli. Cuma, penjual kudu jujur dan transparan mengenai barang yang mereka perdagangkan, karena menyangkut kepercayaan dari konsumen.

Febrian menjual burung lewat iklan baris yang tak menjamin sistem keamanan transaksi pada konsumen. Sehingga dia harus piawai menjaga komunikasi dengan calon pembeli.

Selain itu, ketika memilih untuk menjual burung lewat media jual-beli online, gunakan foto terbaru dari burung yang mau ditawarkan. Dengan demikian, pembeli bisa mengetahui pasti kondisi burung tersebut.

Cantumkan juga kondisi burung secara apa adanya agar tidak terjadi masalah di kemudian hari. Misalnya ada pembeli yang murka setelah mengetahui burung yang dibelinya cacat pada salah satu bagian tubuhnya. “Saya biasanya kirim foto KTP atau SIM saya untuk jaga kepercayaan. Saya juga kirim gambar dan mendeskripsikan kondisi burung supaya konsumen tahu barangnya seperti apa,” klaim Febrian

Selain menginformasikan secara jujur kondisi burung, penjual perlu mengajak pembeli untuk memantau langsung. Rofik, penangkar burung murai Medan di Perum Harapan Indah, Bekasi, meminta pembeli datang ke rumahnya untuk memastikan bahwa iklan yang dipasangnya di media jual-beli online benar adanya.

“Untuk menghindari resiko, pembeli harus datang langsung jika berminat setelah lihat iklannya. Burung harus diambil sendiri, saya tak mau pakai jasa kiriman,” ucapnya.

Setelah melihat langsung dan cocok, baru transaksi dilakukan. Artinya, transaksi dilakukan secara cash on delivery (COD), yakni transaksi jual beli yang dilakukan secara langsung oleh penjual dengan pembeli.

Jasa kurir

Meski transaksi burung didunia maya lebih mudah, urusan mengirim barang yang tidak gampang. Namun, jika pengiriman burung terpaksa menggunakan jasa kurir, penjual harus memastikan proses pengiriman aman dan bisa sampai ke pembeli tepat waktu.

Selain itu, proses pengemasan burung tidak boleh sembarangan. Sebelum dipaketkan, burung harus melewati proses sterilisasi supaya tidak stress selama diperjalanan.

Ciri-ciri burung stres biasanya tidak lincah, tidak mau makan apalagi berkicau. Dari gelagatnya juga terlihat enggan bertengger di atas kayu. “Burung hanya diam di dasar kandang yang biasanya banyak kotoran,” terang Febrian.

Sebab itu sebelum pengiriman, burung diasingkan dari aktivitas dan interaksi dengan mahluk hidup baik manusia maupun burung lain. Kandang akan ditutup dengan kertas koran kurang lebih sepekan. “Selain isolasi, burung harus mendapat asupan gizi dan vitamin yang lebih daripada biasanya,” sarannya.

Adapun ongkos kirim burung lewat jalur darat Rp 100.000-Rp 200.000 per ekor. Febrian biasanya menggunakan jasa pengiriman kereta api.

Untuk pengiriman luar pulau ia memakai ekspedisi pesawat. Namun untuk pengiriman ekspedisi jalur udara ada persyaratan minimal dua pengiriman burung dalam satu kali kirim. “Misalnya pengiriman dari Surabaya ke Makasar harganya sekitar Rp 500.000 per dua ekor burung,” imbuh Febrian.

Anda siap jualan burung?

Baca juga:

Leave a Reply