Asry Septiana, Sukses Pasarkan Bisnis Batik Tenun Dari Rumah

Siapa bilang ibu rumah tangga tidak bisa menjalankan bisnis dari rumah? Adalah Asry Septiana, salah satu ibu rumah tangga yang sukses menekuni usaha kreatif berupa batik tenun dengan merek My Fay Uniquely Ethnic. Mengusung konsep go green dengan memakai pewarna alami menjadi value added tersendiri bagi My Fay Uniquely Ethnic. Apa kelebihan My Fay Unique Ethnic yang banyak diminati artis dan ibu pejabat ini?

Awal Bisnis Batik Tenun My Fay Uniquely Ethnic

Batik adalah ekspresi budaya yang memiliki makna simbolis dan nilai estetika yang tinggi bagi masyarakat Indonesia. Saat ini batik tidak haya diminati di dalam negeri saja, tetapi juga disukai diluar negeri. Tak heran bila banyak pelaku usaha yang tertarik menekuni usaha batik, salah satunya Asry Septiana.

Wanita yang akrab disapa Fay ini mengaku tekstil khususnya batik telah menjadi passion dalam hidupnya, bahkan ketika kuliah di STIE Telkom Bandung, Fay memilih program studi Kriya Tekstil dan Mode. Selepas kuliah Fay sempat bekerja menjadi designer di beberapa brand hijab.  “Setelah menikah dan memiliki anak saya memutuskan resign dari pekerjaan dan memilih untuk fokus mengurus rumah tangga,” terangnya.

Namun setelah sang anak sudah cukup besar, Fay tertarik untuk menjadi seorang entrepreneur. Fay mengaku sempat membuka usaha hijab dan cukup laris diminati masyarakat.  “Namun saya merasa hijab bukan gue banget, passion saya bukan di hijab, akhirnya saya stop usaha hijab saya,” ujarnya.

Meski begitu keinginan Fay untuk memiliki sebuah usaha masih tetap ada, hingga akhirnya Fay bergabung dengan Women Preneur Community dan mengikuti kompetisi bisnis.  Fay yang saat itu tidak memiliki usaha mengaku sempat bingung, namun karena merasa memiliki passion dan keahlian di bidang tekstil, Fay akhirnya memutuskan  untuk membuka usaha batik sejak Maret 2015 dengan brand My Fay Uniquely Ethnic.

Asry Septiana, Sukses Pasarkan Bisnis Batik Tenun Dari Rumah

Bukan tanpa alasan Fay memilih usaha batik, pasalnya selain memang memiliki passion dan keahlian dibidang batik, Fay juga pernah mengangkat batik Tuban sebagai bahan skripsinya.  “Waktu kuliah saya pernah mengembangkan dan memberikan penyuluhan untuk melestarikan batik Tuban, dan kini saya kembali lagi ke daerah yang pernah saya bina,” ujarnya.

Untuk mendirikan My Fay, Fay mengaku tidak mengeluarkan modal sepeserpun. Cara yang dilakukan oleh Fay adalah dengan melakukan kerjasama dengan masyarakat di mana Fay mentransfer ilmu pada masyarakat tentang bagaimana membuat batik, dan produk yang dihasilkan oleh masyarakat Fay jual.  “Dari situ saya kembangkan hingga seperti sekarang ini,” ujarnya.

My Fay Uniquely Ethnic Terinspirasi Oleh Motif Burung Phonic

Tidak seperti pelaku usaha baik lainnya yang  menonjolkan batik khas suatu daerah, My Fay tidak tidak mengusung ciri khas suatu daerah. Walaupun demikian Fay mengaku masih ada unsur-unsur budaya dan kearifan lokal yang digunakan motif padi, rumput, maupun burung phonic, “Kalau ditanya My Fay ini arahnya kemana, ya arahnya ke saya. Untuk saya ini saya banyak terinspirasi oleh motif burung phonic,” jelasnya.

Yang menjadi keunikan My Fay adalah menggunakan kain tenun. Dikatakan Fay tidak semua pembatik bisa untuk membatik di atas tenun, tingkat kesulitan tersendiri dibanding dengan membatik di atas kain.  Maka tidak heran bila proses pembuatannya memakan waktu yang lama yaitu 2 bulan jika dikerjakan dari awal proses menenun hingga membatik.

Untuk proses pewarnaan sendiri, Fay menggunakan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan (go green).  Untuk warna merah misalnya Fay menggunakan Daun Jati Belanda atau Akar Mengkudu, warna ungu dari Buah Bit, warna cokelat dari Pelepah Mahoni, Meski begitu Fay mengaku menggunakan penguat warna seperti Talas dan Cuka.  “Semua pewarnaan menggunakan bahan alami tanpa pewarna tekstil, sehingga air bekas pencelupan menjadi ramah lingkungan,” ujarnya.

Dikatakan Fay, kelebihan menggunakan pewarna alam selain menyelematkan bumi (go green) juga membuat batik tenun semakin lama menjadi semakin bagus.  Fay juga menjamin warna batik tidak akan pudar malah akan bertambah bagus, dari segi perawatan dan pencucian juga juga sangat simple. “Cukup di celup-celup saja pakai lerak atau deterjen khusus batik juga bisa,” terangnya.

Agar produknya lebih artistic Fay membatasi jumlah produksi yaitu 1-2 piece saja dari setiap design.  Karena menggunakan pewarna alami dan di produksi terbatas membuat produk My Fay menjadi sangat artistic dan otentik.  “Saya ingin orang yang mengenakan My Fay ini bangga, jadi kalau tidak beli hari ini anda tidak akan mendapatkan barang yang sama persis,” terangnya.

Ada berbagai produk yang ditawarkan My Fay mulai dari Home Dekor seperti Walf Hanging dan Runner, fashion berupa Outer Panjang, Outer pendek, Selendang, Batik Tenun, dan yang terbaru Fay mencoba membuat Sepatu batik. Harga yang ditawarkan juga bervariasi mulai dari Rp 300 ribu – 2,5 juta/ pcs.

Dengan segala kelebihannya tersebut maka wajar bila MyFay berhasil menjadi Mitra binaan ASTRA dan telah lulus uji kurasi produk sehingga bisa masuk gallery WOW Indonesia di SMESCO.  Tidak heran bila MyFay banyak diminati oleh kalangan artis dan ibu-ibu pejabat.  “Banyak artis dan ibu pejabat yang suka dan kolektor batik yang menjadi pelanggan MyFay,” ujarnya.

Sosialpreneur

Keunikan lainnya dari MyFay adalah menggunakan tenun Gedog.  Selain memiliki ciri khas tenun yang lebih rapat, tenun gedog juga sudah sangat familiar bagi masyarakat Tuban namun keberadaannya hampir mengalami punahan.  “Saya ingin melestarikan budaya asli Tuban,” ujarnya.

Untuk itu Fay kembali membina masyarakat Tuban dengan memberikan edukasi untuk menenun dan membatik seperti pada saat kuliah dulu. Fay mengajarkan mulai dari proses membuat benang dari kapas, hingga teknik-teknik menenun.  “Jika dulu mereka cuma bisa menenun polos sekarang mereka sudah bisa menenun Kotak, Tenun Seset, dan Tenun Zigzog,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Fay juga mengajarkan kepada anak-anak usia sekolah dasar cara membatik di atas tenun serta membuat program untuk ibu-ibu untuk menambah pemasukan keluarga.  “Jika hasil karya dari anak-anak dan ibu-ibu tersebut laku terjual maka mereka akan mendapat bayaranya,” ujarnya.  Kedepannya Fay berharap ingin memiliki galeri sendiri dan memiliki workshop di Jakarta, sehingga pelanggan atau pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan batik tenun.

Informasi lebih lanjut mengenai usaha batik tenun ini, hubungi:

MyFay Uniquely Ethnic
Serpong Green Park 2 No F9
Jl. Masjid Ciater, Ciater Raya, Serpong
Telp : 081383664625
Website: http//myfayindonesia.com/

Baca juga:

Leave a Reply